Cerita

Perjuangan dan Ketabahan Rasulullah SAW Menghadapi Ujian di Makkah

· Penulis: Khaidir Ali

Jenis cerita: Kisah nyata (sejarah/biografi). Mengenalkan Nabi Muhammad SAW, sosok penyabar dan teguh yang membawa risalah tauhid di tengah tatanan masyarakat Makkah yang dipenuhi penyembahan berhala dan kesukuan yang ketat.

Awal cerita

Perjuangan Rasulullah Muhammad SAW di Makkah selama kurang lebih 13 tahun merupakan salah satu fase paling krusial dan penuh ujian dalam sejarah Islam. Kota Makkah di awal abad ke-7 berada di bawah pimpinan kaum Quraisy yang memegang kendali sosial, politik, serta ekonomi berbasis penyembahan berhala dan tatanan kesukuan yang ketat. Ketika Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira dan mulai melancarkan dakwah, tatanan sosial serta ekonomi Makkah terguncang. Seruan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan menegakkan keadilan sosial memicu gelombang perlawanan hebat dari para pemuka Quraisy.

Setelah tiga tahun dakwah secara sembunyi-sembunyi (da'wah sirriyyah), perintah dakwah terbuka (da'wah jahriyyah) pun turun. Rasulullah SAW mengumpulkan suku Quraisy di Bukit Shafa untuk menyampaikan risalah tauhid. Namun, respons yang diterima adalah penolakan keras dan cemoohan dari para pemimpin Quraisy, terutama pamannya sendiri, Abu Lahab. Islam membawa ajaran tauhid yang meruntuhkan sistem kepercayaan leluhur berpusat pada 360 berhala di sekeliling Ka'bah, sekaligus mengancam industri pembuatan berhala dan perdagangan peziarah. Selain itu, Islam menegaskan kesetaraan derajat antara bangsawan dan budak, sesuatu yang merombak total struktur hierarki kesukuan Quraisy.

Perjalanan tokoh

Sejak perlawanan terbuka dimulai, pemuka Quraisy melancarkan propaganda media dan serangan psikologis. Mereka melabeli Rasulullah SAW sebagai penyair gila, tukang sihir, peramal, dan pemecah belah tali silaturahmi keluarga untuk mencegah peziarah luar kota mendekati beliau. Gangguan tersebut tidak berhenti pada kata-kata, melainkan berlanjut pada kekerasan fisik. Duri dan sampah ditebarkan di depan pintu rumah beliau, dan Uqbah bin Abi Mu'ait pernah melemparkan kotoran unta ke atas punggung Nabi saat beliau bersujud di Ka'bah, serta mencekik leher beliau dengan kain hingga dipisahkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Para pengikut awal dari kalangan miskin dan hamba sahaya menjadi sasaran persekusi tajam tanpa perlindungan hukum suku. Bilal bin Rabah disiksa di bawah terik matahari dengan batu besar ditindihkan di dadanya, sementara Sumayyah binti Khayyat dan suaminya Yasir menjadi syuhada pertama dalam Islam. Melihat penderitaan pengikutnya, Rasulullah SAW memerintahkan sebagian sahabat untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Raja Najasyi. Menyadari intimidasi fisik tidak menghentikan pergerakan Islam, Quraisy mengubah strategi melalui tawaran kekayaan, kedudukan, wanita, hingga pengobatan terbaik melalui Utbah bin Rabi'ah, yang ditolak tegas oleh Rasulullah SAW. Mereka juga mengusulkan kompromi penyembahan berhala dan Allah secara bergantian, yang ditolak mutlak melalui Surah Al-Kafirun.

Pada tahun ke-7 kenabian, kaum Quraisy melancarkan aksi pemboikotan total terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutthalib yang digantung di Ka'bah. Selama hampir tiga tahun terisolasi di lembah Syi'ib Abu Thalib, kaum muslimin mengalami kelaparan hebat hingga terpaksa mengunyah dedaunan kering dan kulit kayu sebelum piagam tersebut akhirnya dirobek oleh beberapa tokoh Makkah yang iba. Tidak lama setelah pemboikotan berakhir, pada tahun ke-10 kenabian (Amul Huzni), dua pilar pelindung terkuat Nabi SAW wafat: Abu Thalib sebagai benteng pertahanan politik, dan Khadijah binti Khuwailid r.a. sebagai penopang emosional dan finansial.

Mencari ruang dakwah baru, Rasulullah SAW berjalan kaki puluhan kilometer menuju Tha'if bersama Zaid bin Haritsah. Namun, para pemimpin Tha'if memobilisasi masyarakat dan anak-anak untuk melempari Nabi dengan batu hingga tubuh beliau berdarah. Di tengah luka fisik, beliau berlindung di kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah dan memanjatkan doa menyampaikan kelemahannya hanya kepada Allah SWT. Keteguhan beliau akhirnya membuahkan hasil saat ajaran Islam diterima oleh penduduk Yatsrib (Madinah) melalui Perjanjian Aqabah I dan II.

Akhir dan makna

Merasa terancam oleh perkembangan Islam di Yatsrib, para pemuka Quraisy berkumpul di Darun Nadwah dan sepakat mengutus pemuda pilihan dari setiap suku atas usul Abu Jahal untuk membunuh Nabi SAW secara bersamaan. Dengan izin Allah SWT, Rasulullah SAW menyusun strategi matang bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Nabi meminta Ali bin Abi Thalib untuk tidur di ranjangnya guna mengelabui pengepung, sementara beliau dan Abu Bakar berhasil keluar dari Makkah, bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari, dan menempuh jalur selatan menuju Yatsrib.

Peristiwa Hijrah ini menandai akhir dari fase Makkiyah yang penuh ketabahan dan penderitaan, sekaligus menjadi awal berdirinya tatanan peradaban masyarakat baru di Madinah. Dari kisah ini, petunjuk keteguhan prinsip, kesabaran dalam menghadapi ujian, keadilan sosial, dan kedewasaan strategi menjadi nilai utama yang membimbing umat manusia sepanjang sejarah.

Pertanyaan setelah membaca

  1. Apa tujuan utama perjuangan Rasulullah SAW di Makkah dan apa masalah terbesar yang beliau hadapi dari kaum Quraisy?
  2. Pilihan dan strategi apa saja yang dilakukan Rasulullah SAW untuk melindungi para sahabat dan menjaga keberlangsungan dakwah di tengah ancaman fisik serta pemboikotan?
  3. Bagian mana dari perjuangan Rasulullah SAW selama periode Makkah yang paling berkesan bagi Anda, dan mengapa?

Sumber atau inspirasi (jika ada)

Sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW) · Rekonstruksi Sejarah Peristiwa Sirah Nabawiyah Fase Makkah.

Reaksi & komentar pembaca

Komentar dan reaksi bersifat publik. Jangan tulis informasi pribadi.

Nama yang ditampilkan